Mitos Atau Fakta, Semangka Bisa Obati Gangguan Ginjal Akut?

Mitos Atau Fakta, Semangka Bisa Obati Gangguan Ginjal Akut?

Banyak sekali informasi yang beredar di dunia maya menyebut buah semangka sebagai buah yang bisa mengobati gangguan ginjal parah.Tapi apakah ini fakta atau hanya mitos?

Dokter anak di Rumah Sakit Anak dan Persalinan Harapan Kita (RSAB) Dr Endang Listari, Sp.A(K) menggambarkannya sebagai sebuah mitos.

Ia mengaku belum pernah mendengar “seseorang bisa sembuh” hanya dengan mengonsumsi buah semangka dalam jumlah besar. Termasuk kasus gangguan ginjal akut pada anak.

“Anak-anak juga bisa mengalami gagal ginjal akut, hati-hati!” kata dr Endang, dalam talkshow Instagram Live bertajuk “Anak juga bisa mengalami gagal ginjal akut!”

Selain itu, kata dia, anak dengan gangguan ginjal berat memiliki potensi gangguan tumbuh kembang yang tinggi.

BACA JUGA  Apa Pengertian Buah Segar? Ini Penjelasan dan Ciri-cirinya

Dikatakannya, jika kondisi anak tidak membaik dalam waktu satu hingga tiga bulan, maka dapat dikatakan anak ini menderita penyakit ginjal kronis.

“Ya, tentu saja, jadi ketika ada penyakit ginjal akut, jika tidak ada perbaikan dalam satu hingga tiga bulan, tidak kembali normal, jadi kami menyebutnya penyakit gangguan ginjal kronis,” kata dr Indang.

Hal ini tentu saja mengganggu tumbuh kembang anak, karena keadaannya berbeda dengan anak pada umumnya.

“Wah, bisa sangat mengganggu tumbuh kembang anak,” jelas dr Endang.

Makan dan minum juga harus dibatasi, karena ginjal sudah tidak bekerja lagi.

“Bagaimana kalau misalnya anak harus membatasi (makan dan minum)? Kalau misalnya ada penyakit ginjal kronis, sebagian fungsi ginjalnya hilang, jadi kita harus mengatur makanannya,” kata dr Endang.

BACA JUGA  10 Makanan yang Bisa Membantu Tidur Malam Lebih Nyenyak

Jika anak memiliki penyakit gangguan ginjal kronis, pola makannya akan berbeda dengan anak dengan kondisi kesehatan normal.

Penyakit ginjal kronis ini akan membuat anak harus menjalani transfusi darah.

“Harus bolak-balik, mungkin dia akan mendapat transfusi darah, kalau misalnya dia mau transfusi darah, ya,” kata dr Endang.

Selain itu, makanan dan minuman yang dikonsumsi anak dengan gangguan ginjal berat juga dibatasi untuk mencegah kelebihan cairan.

Karena walaupun dia minum banyak air, airnya tidak membuatnya buang air kecil, jadi kencingnya tidak keluar.

“Nah anak akan dibatasi, misalnya tidak kencing, banyak minum tapi tidak seperti kita teman-teman urinnya banyak, kalau tidak bisa karena banyak minum tapi tidak kencing, jadi terbebani,” kata dr Endang.

BACA JUGA  7 Cara untuk Menjaga Kesehatan Mental saat Pandemi

Tentunya kelebihan beban ini mengganggu pertumbuhan dan perkembangan, karena beberapa fungsi organ dalam tubuh juga bisa terganggu.

Endang menyimpulkan, “Nah kalau bolak-balik seperti itu repot, jadi anak-anak dibatasi minumnya, dibatasi makannya. (kalau tidak dibatasi) pasti akan ada gangguan tumbuh kembang.”