Masyarakat Madani Dan Kesejahteraan Umat

Masyarakat Madani Dan Kesejahteraan Umat – Anggota: Nadia Nurul Wahra M – Thorik Mustofa Hakkoni – Safira Firda Ariani – Putri Amelia Zaharman Frisilia Bayou Mutiara –

2 KESIMPULAN Banyaknya kasus penindasan manusia oleh penguasa merupakan fakta yang sering kita lihat dan dengar di media, baik media cetak maupun elektronik yang memiliki pengaruh besar di masyarakat. Bagaimana masyarakat dapat merespon masyarakat adalah sesuatu yang harus dipelajari bersama. Untuk mengkaji hal ini, Islam memiliki ajaran yang konkrit untuk menciptakan kondisi masyarakat Islam, karena Islam bukanlah agama yang hanya memiliki konsep spiritual. Atau khotbahnya di Ubudiyah. Kemungkinan adanya kekuatan sosial sebagai bagian dari masyarakat nasional akan mengarah pada konsep masyarakat sipil.

Masyarakat Madani Dan Kesejahteraan Umat

Masyarakat adalah masyarakat yang beradab, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan maju melalui inovasi-inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti dalam firman-Nya, Q.S Saba ayat 15: Sesungguhnya ada tanda (kekuasaan Allah) bagi penduduk Saba di tempat tinggal mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Mereka diberitahu): “Makanlah dirimu dari makanan yang disediakan oleh Tuhanmu, dan bersyukurlah kepada-Nya.” (Negaramu) adalah negara yang baik, dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.”

Tugas Konsep Masyarakat Madani

Konsep “masyarakat madani” merupakan terjemahan atau islamisasi dari konsep “masyarakat madani”. Civil society sebagai masyarakat madani mengacu pada konsep dan struktur masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Perbedaan antara masyarakat sipil dan masyarakat sipil adalah bahwa masyarakat sipil adalah hasil dari zaman modern, dan gerakan masyarakat duniawi yang tidak menghormati Tuhan. Namun, lembaga sosial lahir sejak bayi dan diasuh oleh tuntunan Tuhan.

Aristoteles (Yunani, BC) Menurutnya, masyarakat sipil diatur sebagai sistem negara atau dengan cara yang sama sebagai negara. Inilah yang disebut koinonia politis, sebuah organisasi politik di mana warga negara dapat secara langsung berpartisipasi dan mengambil keputusan di berbagai bidang ekonomi dan politik. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan organisasi politik dan moral yang warganya sama di depan hukum. Hukum sendiri dianggap sebagai etos, seperangkat nilai yang disepakati tidak hanya dalam konteks proses politik, tetapi juga sebagai dasar kebijakan berbagai macam kerjasama antar warga.

8 Karl Marx ( ) Sementara itu, Karl Marx melihat masyarakat sebagai masyarakat borjuis. Dalam konteks hubungan produksi kapitalis, keberadaan masyarakat sipil merupakan hambatan utama bagi upaya pembebasan rakyat dari penindasan kapitalis. Jadi, untuk menciptakan sistem kebebasan manusia, institusi sosial harus dihapuskan untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas.

1) Bangsa Saba, yaitu bangsa pada zaman Nabi Sulaiman. Masyarakat Saba hidup di tanah yang indah, subur dan nyaman. Di tempat itu ada taman dengan tanaman yang subur, yang menyediakan makanan, yang memenuhi kebutuhan orang-orang. Negeri yang indah ini merupakan ungkapan cinta Tuhan kepada bangsa. Allah SWT juga yang paling pemaaf ketika terjadi kesalahan di masyarakat. Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan penduduk Saba untuk bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan pekerjaan hidup mereka.

Masyarakat Madani Dan Kesejahteraan Umat

Sesungguhnya bagi penduduk Saba terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) di rumah-rumah mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Mereka diberitahu): “Makanlah dirimu dari makanan yang disediakan oleh Tuhanmu, dan bersyukurlah kepada-Nya.” (Negaramu) adalah negara yang baik, dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.”

11 2) Penduduk Madinah Setelah perjanjian itu, Rasulullah SAW. Dan Perjanjian Madinah antara kaum Muslimin dengan penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan Watsani dari kalangan As dan Khazraj. Traktat Madinah adalah kesepakatan tiga bagian masyarakat untuk saling membantu, menegakkan perdamaian dalam kehidupan masyarakat, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasulullah SAW sebagai pemimpin mereka dengan ketaatan penuh. keputusan, dan memberikan kebebasan kepada warga negara. Menerima agama dan beribadah menurut kehendak-Nya melalui ajaran agama-Nya.

Ruang publik yang bebas Dalam ruang publik ini, publik memiliki akses penuh terhadap setiap fungsi publik, yaitu hak masyarakat untuk menyampaikan gagasan, berpartisipasi, mengumpulkan, dan mempublikasikan informasi. Demokratisasi, yaitu proses dimana masyarakat mengetahui hak dan kewajibannya untuk menyatakan pandangannya dan mengurus kepentingannya. 3. Toleransi, yaitu saling menghormati dan menghargai pandangan dan kegiatan orang/kelompok lain.

Keadilan sosial, yaitu pemerataan dan keseimbangan hak dan kewajiban, serta tanggung jawab setiap orang di lingkungan. Dalam pengertian lain, keadilan sosial adalah hilangnya monopoli dan sentralisasi suatu aspek kehidupan yang dilakukan oleh kelompok atau kelompok tertentu. Partisipasi publik, yaitu partisipasi publik yang sepenuhnya bebas dari manipulasi, intimidasi, atau campur tangan otoritas/organisasi lain. Rule of law, yang merupakan upaya untuk menjamin tegaknya keadilan. Sebagai upaya pengembangan masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan pendidikan. Sebagai advokat bagi orang-orang yang teraniaya dan yang tidak memiliki kekuatan untuk melindungi hak dan kepentingannya.

Masjid Al Ittihad Sleman Ciptakan Peradaban Baru Di Tengah Umat Islam

15 Nabi mengajarkan tiga sifat Islam yang menjadi landasan pembangunan bangsa, yaitu: Islam yang manusiawi, Islam moderat, Islam yang toleran.

16 1. Islam Manusia Hakikat ajaran Islam yang diajarkan Nabi sangat sesuai dengan fitrah manusia. Allah QS al-Ram berfirman dalam ayat 30: “Maka menghadapkan wajahmu kepada agama Allah, berdirilah di atas fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan tabiat Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak tahu.”

17 2. Islam Moderat Pengertian Islam moderat adalah keseimbangan ajaran Islam dalam berbagai bidang kehidupan manusia, baik dalam dimensi vertikal (al-Wasathiyah al-Diniya) dan horizontal (al-Tawazun al-Ijtima’i). Dalam hal ini, Allah menggambarkan ciri-ciri kaum Nabi sebagai orang-orang moderat Salah satu ciri utama Islam sebagai agama yang bersatu adalah moderasi. Standar ini sangat selaras dengan kecenderungan dan alam manusia. Standar ini pula yang membuat Islam mudah diterima oleh akal dan pikiran masyarakat.

18 3. Islam Toleran Istilah ‘toleransi’ dalam kajian Islam memiliki dua arti, yaitu berkaitan dengan pemeluk Islam (Muslim) dan pemeluk agama lain (non-Muslim). Jika dikaitkan dengan umat Islam, toleransi berarti keluwesan, kemudahan dan keluwesan ajaran Islam bagi pemeluknya. Sehingga Islam menjadi rahmatan li al-alamin j salih li kulli zaman wa makan, hal itu sebenarnya tercermin dalam situasi masyarakat Madinah pada masa Nabi.

Masyarakat Madani Dan Kesejahteraan Umat

19 Maka dalam perjalanannya, banyak ditemukan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang membicarakan masalah ini. Allah berfirman, Q.S al-Baqarah: 286 yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melebihi kekuatannya sendiri.” Berdoa): “Ya Tuhan kami, jangan hukum kami jika kami lupa atau melakukan kesalahan. Ya Tuhan, jangan bebankan kami seperti Engkau membebani orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan, apa yang tidak dapat kami tanggung Jangan bebankan beban itu pada kami. Ampunilah kami, ampunilah kami, dan kasihanilah kami, Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami dari orang-orang kafir.

20 Jadi sementara ajaran Islam memiliki implikasi yang sesuai dengan sifat manusia dan kondisi manusia, Allah juga mengetahui kelemahan manusia sehingga Dia berfirman: Q.S al-Nisa: 28 yang artinya: “Untuk Allah kamu mencari istirahat, dan manusia. keadaan lemah Inilah jalan kenyamanan dan kemudahan ajaran Islam, Islam menjunjung tinggi kenyamanan, kasih sayang dan kedamaian bagi pemeluknya serta pemeluk agama yang berbeda, memegang teguh nilai-nilai dan adat istiadat Islam sebagai upaya menjaga tatanan kehidupan manusia.

21 Sehingga tidak ditemukan ajaran Islam yang mengarah pada kekerasan dan pemaksaan emosi sama sekali, kecuali dua hal; Bahkan ketika kita menghadapi musuh dalam pertempuran, Allah telah memerintahkan kita untuk menjadi tangguh, berani dan tidak menyerah. Kecenderungan wajib untuk menerapkan dan menegakkan hukuman Syariah ketika dilanggar. Dalam hal ini, Tuhan tidak menginginkan belas kasihan dan belas kasihan, sehingga hukumannya tidak selesai. Sikap pemaksaan ini tidak lain adalah upaya untuk menghindari penyebab gangguan dalam konstelasi kehidupan masyarakat yang bermartabat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan tradisi.

22 Sedangkan jika kata “toleransi” dikaitkan dengan non-Muslim, ajaran Islam justru menghargai keragaman agama. Orang yang berbeda agama memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Dengan kata lain, Islam menjamin keselamatan dan keamanan jiwa dan raga mereka selama mereka mematuhi syarat-syarat yang disepakati. Darah mereka diharamkan untuk ditumpahkan seperti darah kaum muslimin.

Peran Umat Islam Dalam Mewujudkan Masyarakat Madani Di Indonesia

Dia berkata: “Aku mengulangi apa yang dilarang Tuhanmu untukmu, yaitu: jangan mempersekutukannya dengan apa pun, berbuat baik kepada orang tuamu dan jangan membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami juga akan memberimu makanan; dan yang terlihat Dan janganlah kamu mendekati kekejian yang tersembunyi, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (untuk dibunuh) kecuali dengan kebenaran.” Tuhanmu telah memerintahkan kamu agar kamu memahaminya.

Muslim Indonesia merupakan bagian besar dari masyarakat Indonesia. Sebagai bagian terbesar dari masyarakat ini, umat Islam harus berpartisipasi aktif dalam kehidupan negara ini. Muslim Indonesia karena sebagian besar dari mereka bertanggung jawab atau memainkan peran yang sangat besar dalam memenuhi masyarakat. Itu akan tergantung pada bagaimana umat Islam menjalani kehidupan mereka di negara ini. Oleh karena itu, umat Islam memiliki tiga peran sejati, yaitu: sebagai warga negara, sebagai produsen kehidupan masyarakat, sebagai perencana kehidupan masyarakat dan bangsa.

26 1. Sebagai Warga Negara Sebagai warga negara, umat Islam harus memenuhi kewajibannya menurut hukum negara.

Dalam konteks ini, umat Islam diharapkan menampilkan diri sebagai sumber pembangunan di segala bidang kehidupan seperti ekonomi, masyarakat, pendidikan, politik dan budaya. Dalam pelaksanaannya, segala tindakan harus dilandasi nilai-nilai Islam.

Masyarakat Madani Dan Kerukunan Umat Beragama

Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia bersifat plural karena memiliki perbedaan ras, suku, agama, kasta dan lain-lain. Jadi umat Islam harus pandai mengimplementasikan ide-ide Islam Indonesia. Ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan, seperti yang diajarkan oleh