Berbagai Macam Metode Pengukuran Hasil Investasi
Berbagai Macam Metode Pengukuran Hasil Investasi

Berbagai Macam Metode Pengukuran Hasil Investasi

Kita sudah mengetahui berbagai macam metode pengukuran hasil investasi, keuntungan dan risiko yang mungkin akan Anda hadapi, serta perannya di dalam suatu pasar modal.

Lalu apakah jenis investasi yang akan kita pilih sudah cukup tepat dan bisa mendatangkan banyak keuntungan seperti apa yang kita harapkan?

Investasi harus dipertimbangkan dari awal kelayakannya. Selanjutnya, dana yang digunakan untuk investasi merupakan bagian dari dana/aset organisasi. Untuk itu, penting untuk melakukan kajian dan menentukan tingkat kelayakannya.

Kelayakan investasi menggambarkan apakah investasi tersebut menguntungkan atau tidak. Oleh karena itu, kelayakan selalu diukur dari dua hal. Pertama, berapa banyak uang yang harus diinvestasikan dalam investasi.

Kedua, jumlah pendapatan yang dihasilkan dan risiko yang terkait dengannya. Analisis kelayakan akan dilakukan dengan membandingkan nilai investasi dan pendapatan serta risiko.

Langkah pertama yang bisa Anda lakukan adalah mengukur hasil investasi Anda. Dengan mengacu pada investasi berbasis bisnis, gambaran tingkat pengembalian investasi dapat diperoleh.

Gambar ini merupakan indikasi jangka waktu pengembalian investasi utama, pendapatan minimum yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi, atau jumlah pengembalian investasi dibandingkan dengan nilai awalnya.

Jadi bagaimana Anda sebenarnya mengukur hasil investasi?

Berikut beberapa metode pengukuran hasil investasi yang dapat digunakan.

a. Payback period

Metode ini untuk menghitung jumlah investasi melalui arus kas masuk dari investasi sebagai pembayaran untuk nilai investasi awal. Artinya, total arus kas akan dibandingkan dengan nilai awal investasi.

BACA JUGA  Investasi Yang Cocok Untuk Kaum Rebahan

Semakin pendek periode yang diperlukan untuk membawa total arus kas masuk sama dengan nilai awal investasi, semakin menarik investasi tersebut.

Dalam hal investasi, metode ini relatif mudah digunakan, tetapi memiliki sejumlah kelemahan mendasar. Salah satunya adalah metode ini tidak menghitung nilai waktu dari uang.

Artinya pendapatan perusahaan yang diperoleh dari bidang penanaman modal misalnya di bidang percetakan selama 5 tahun berturut-turut sama dengan nilai awal penanaman modal. Sehingga hasil investasi baru diketahui setelah nilai investasi terpenuhi, misalnya pada tahun ketujuh atau kedelapan.

Dan hal ini berbanding terbalik jika lembaga tersebut telah melakukan simpanan di bank selama lebih dari 5 tahun, tentunya nilainya akan terus meningkat (dengan bunga).

Kerugian lain adalah metode ini tidak memperhitungkan pendapatan setelah pengembalian modal. Metode ini hanya berfokus pada kapan investasi akan kembali. Setelah periode tersebut pendapatan tidak diperhitungkan. Sedangkan kelebihan dari metode ini adalah mudah untuk dipahami dan dihitung.

b. Net Present Value (NPV)

Metode ini memperhitungkan nilai waktu uang dari semua arus kas masuk bersih yang dikeluarkan pada awal investasi ditambah pendapatan yang diperoleh.

Konsep nilai uang mengasumsikan bahwa 1 (satu) rupiah saat ini akan lebih dari 1 (satu) rupiah di tahun depan. Asumsi ini didasarkan pada fakta bahwa inflasi atau kenaikan harga selalu terjadi sedemikian rupa sehingga daya beli dengan nilai nominal yang sama menurun dari waktu ke waktu.

Penurunan nilai pembelian ini harus dikompensasikan dengan penerimaan keuntungan masa depan dalam bentuk bunga atas uang tersebut.

BACA JUGA  Keuntungan Investasi Robot Trading Forex

Jadi uang yang diinvestasikan harus mendapatkan bunga untuk mengimbangi penurunan nilai akibat inflasi. Persentase yang digunakan untuk menghitung inflasi ini disebut sebagai faktor diskon.

Secara umum, faktor diskon mengacu pada tingkat bunga bank ditambah margin. Jika tingkat bunga deposito di bank adalah 16%, maka investasi ini diharapkan dapat memberikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi, katakanlah 18%. mengapa demikian?

Ingatlah bahwa investasi ini memiliki risiko yang lebih tinggi daripada deposito. Jika hasilnya sama, yaitu 16%, maka lebih baik meletakkannya hanya di deposit.

Oleh karena itu, digunakan faktor diskon yang lebih tinggi dari bunga deposito. Jika terdapat pilihan lebih dari satu investasi, maka perlu dihitung nilai investasi dan nilai sekarang dari pendapatan masa depan. Investasi yang memberikan perbedaan terbesar atau keuntungan positif dalam nilai sekarang adalah pilihan pertama.

Tentunya perbandingan dilakukan dengan menggunakan discount factor dan periode yang sama. Kelemahan metode ini adalah sulitnya membandingkan dua jenis investasi dengan nilai investasi yang berbeda.

Misalnya, kedua jenis investasi menghasilkan pengembalian positif, tetapi nilai investasinya tidak sama. Bagaimana Anda memutuskan investasi terbaik?

c. The Net Present Value Index

Saat menganalisis beberapa penawaran investasi serupa, nilai sekarang dari setiap investasi dihitung. Nilai sekarang dari pendapatan setiap investasi (faktor diskon dan periode yang sama) dibandingkan dengan nilai investasi.

BACA JUGA  Berinvestasi Emas Antam yang Aman Dan Menguntungkan

Hasilnya adalah sebuah indeks, dimana investasi dengan indeks tertinggi dianggap yang terbaik.
Untuk contoh di atas misalnya nilai discounted cash flow adalah 270.648.000 sedangkan nilai investasinya adalah 200.000.000 maka indikator yang didapat adalah :

270648000

————— = 1,353

200.000.000

Nilai indeks lebih besar dari 1 (satu) berarti investasi tersebut menguntungkan, artinya pengembalian investasi lebih besar dari biaya investasi.

Jika dua proyek atau kegiatan memiliki nilai indeks yang berbeda, proyek yang lebih besar dianggap lebih menguntungkan daripada yang memiliki indeks lebih kecil.

d. IRR (Internal Rate of Return)

Metode IRR juga telah mengadopsi konsep nilai waktu uang. Jika dengan metode NPV, dengan discount factor tertentu (bunga bank misalnya), maka investasi yang diperhitungkan menghasilkan keuntungan yang besar.

Keuntungan dihitung berdasarkan nilai sekarang. Oleh karena itu, investasi dengan keuntungan terbesar dalam nilai sekarang atau dengan indeks tertinggi harus dipilih. Metode IRR menghitung tingkat faktor diskon dan nilai IRR dibandingkan dengan faktor diskon gabungan, seperti bunga bank.

Jika tingkat pengembalian internal yang diperoleh lebih tinggi dari faktor diskon (seperti bunga bank), maka investasi dapat dilakukan, sebaliknya jika tingkat pengembalian internal lebih kecil dari faktor diskon, maka investasi tidak boleh dilakukan.

Jika terdapat berbagai macam metode pengukuran hasil investasi, maka pilihan jatuh pada investasi yang mengembalikan modal investasi dengan faktor diskon tertinggi. Perhitungan IRR dapat menggunakan interpolasi “trial and error”.